AHLAN WASAHLAN....


Jumat, 12 November 2010

Puasa Arofah Ikut Siapa?


Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak bertepatan dengan wukuf di Arofah?

Syaikh Muhammad bin Sholih ‘Utsamin pernah diajukan pertanyaan:
Kami khususnya dalam puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat.

Pendapat pertama: kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi Arabia.
Pendapat kedua: kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.
Pendapat ketiga: kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi Arabia.

Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai puasa bulan Ramadhan dan puasa Hari Arofah. Kami memberikan sedikit informasi bahwa lima tahun belakangan ini, kami tidak pernah bersamaan dengan Saudi Arabia ketika melaksanakan puasa Ramadhan dan puasa Arofah. Biasanya kami di negeri ini memulai puasa Ramadhan dan puasa Arofah setelah pengumuman di Saudi Arabia. Kami biasa telat satu atau dua hari dari Saudi, bahkan terkadang sampai tiga hari. Semoga Allah senantiasa menjaga antum.

Jawaban:

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat dalam masalah ru’yah hilal apabila di satu negeri kaum muslimin telah melihat hilal sedangkan negeri lain belum melihatnya. Apakah kaum muslimin di negeri lain juga mengikuti hilal tersebut ataukah hilal tersebut hanya berlaku bagi negeri yang melihatnya dan negeri yang satu matholi’ (tempat terbit hilal) dengannya.

Pendapat yang lebih kuat adalah kembali pada ru’yah hilal di negeri setempat. Jika dua negeri masih satu matholi’ hilal, maka keduanya dianggap sama dalam hilal. Jika di salah satu negeri yang satu matholi’ tadi telah melihat hilal, maka hilalnya berlaku untuk negeri tetangganya tadi. Adapun jika beda matholi’ hilal, maka setiap negeri memiliki hukum masing-masing. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Pendapat inilah yang lebih bersesuaian dengan Al Qur’an, As Sunnah dan qiyas.

Dalil dari Al Qur’an yaitu firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). 

Dipahami dari ayat ini, barang siapa yang tidak melihat hilal, maka ia tidak diharuskan untuk puasa.
Adapun dalil dari As Sunnah, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا

Jika kalian melihat hilal Ramadhan, maka berpuasalah. Jika kalian melihat hilal Syawal, maka berhari rayalah.” (HR. Bukhari no. 1900 dan Muslim no. 1080). 

Dipahami dari hadits ini, siapa saja yang tidak menyaksikan hilal, maka ia tidak punya kewajiban puasa dan tidak punya keharusan untuk berhari raya.
Adapun dalil qiyas, mulai berpuasa dan berbuka puasa hanya berlaku untuk negeri itu sendiri dan negeri yang terbit dan tenggelam mataharinya sama. Ini adalah hal yang disepakati. Engkau dapat saksikan bahwa kaum muslimin di negeri timur sana -yaitu Asia-, mulai berpuasa sebelum kaum muslimin yang berada di sebelah barat dunia, begitu pula dengan buka puasanya. Hal ini terjadi karena fajar di negeri timur terbit lebih dulu dari negeri barat. Begitu pula dengan tenggelamnya matahari lebih dulu di negeri timur daripada negeri barat. Jika bisa terjadi perbedaan sehari-hari dalam hal mulai puasa dan berbuka puasa, maka begitu pula hal ini bisa terjadi dalam hal mulai berpuasa di awal bulan dan mulai berhari raya. Keduanya tidak ada bedanya.

Akan tetapi yang perlu jadi perhatian, jika dua negeri yang sama dalam matholi’ (tempat terbitnya hilal), telah diputuskan oleh masing-masing penguasa untuk mulai puasa atau berhari raya, maka wajib mengikuti keputusan penguasa di negeri masing-masing. Masalah ini adalah masalah khilafiyah, sehingga keputusan penguasalah yang akan menyelesaikan perselisihan yang ada.

Berdasarkan hal ini, hendaklah kalian berpuasa dan berhari raya sebagaimana puasa dan hari raya yang dilakukan di negeri kalian (yaitu mengikuti keputusan penguasa). Meskipun memulai puasa atau berpuasa berbeda dengan negeri lainnya. Begitu pula dalam masalah puasa Arofah, hendaklah kalian mengikuti penentuan hilal di negeri kalian.

[Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 19/24-25, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H]
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arofah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.

Misalnya di Makkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arofah pada hari ini karena hari ini adalah hari Iedul Adha di negara mereka.

Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.

Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR Bukhari dan Muslim).

Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.
Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)”.

[Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/47-48, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H]
Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah. Intinya, kita tetap berpuasa Ramadhan, berhari raya dan berpuasa Arofah sesuai dengan penetapan hilal yang ada di negeri ini, walaupun nantinya berbeda dengan puasa, hari raya atau wukuf di Saudi Arabia.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Selasa, 09 November 2010

Zulhijjah & IdilAdha : Beberapa Isu & Hukum



KULLU 'AM WA ANTUM BI KHAIRIN.




Bulan Zulhijjah, khususnya sepuluh hari awalnya adalah merupakan peluang kedua selepas Ramadhan untuk umat Islam mendapatkan gandaan keredhaan, keampunan dan pahala amalan.
Disebutkan oleh Nabi SAW :
"Sebaik-baik hari di dunia adalah sepuluh hari itu" (Riwayat al-Bazzar ; Albani : Sohih).
Allah SWT pula berfirman :
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
"Demi Fajar dan hari-hari yang sepuluh" ( Al-Fajr : 1).
Majoriti ulama menyatakan hari sepuluh itu merujuk kepada hari pertama hingga sepuluh Zulhijjah dan bukannya sepuluh terakhir Ramadhan. (Zad Al-Ma'ad, Ibn Qayyim).
Ia juga disebut oleh Nabi SAW dalam hadith lain :
"Tiada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah SWT untuk hambanya memperbanyakkan amalan dari sepuluh hari ini" (Riwayat Al-Bukhari).

AMALAN-AMALAN UTAMA
 
Manakala amalan-amalan yang digalakkan sepanjang sepuluh awal Zulhijjah yang amat besar pahalanya ini antaranya :- 

a) Zikir : Iaitu dengan memperbanyakkan zikir Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha Illa Allah dan Allahu Akbar.
Ia bersumber dari hadith riwayat At-Tabrani yang diakui sohih oleh Imam Al-Munziri. Allah SWT juga menyebut ertinya : "Supaya mereka menyaksikan berbagai perkara yang mendatangkan faedah kepada mereka serta memperingati dan menyebut nama Allah, pada hari-hari yang tertentu.." (Al-Hajj : 28).
Ibn Abbas r.a mentafsirkan erti ‘hari-hari tertentu' adalah sepuluh hari Zulhijjah ini dan inilah pendapat majoriti ulama jua. 

b) Berpuasa : Amat digalakkan berpuasa pada satu hingga sembilan Zulhijjah bagi orang yang tidak menunaikan Haji. Hari Arafah (9 Zulhijjah ) pula adalah hari yang terbaik untuk berpuasa.
Nabi SAW bersabda tentang kelebihan hari Arafah :
"Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya lebih dari hari Arafah" (Riwayat Muslim).
Nabi SAW juga bila ditanya tentang kelebihan berpuasa pada hari Arafah ini menjawab, ia menghapuskan dosa yang lalu dan tahun kemudiannya. 

c) Melakukan lain-lain amalan seperti bersedeqah, membaca Al-Quran, solat sunat dan lain-lain. Ia semuanya termasuk di dalam umum hadith yang menunjukkan ianya amat disukai oleh Allah SWT. 

d) Menjauhi maksiat dan masa terbaik untuk memulakan tawbat bagi sesiapa yang masih berfikir-fikir dan menangguhnya. Amat biadap jika umat Islam bersukaria dengan melampaui batas haram di hari yang amat agung di sisi Allah SWT ini. Bertawbatlah dengan sebenar-benar tawbat dan sedarilah bahawa hidup ini sementara dan seluruh keseronokannya adalah tipu daya semata-mata. 

e) Bertakbir : Ibn Abi Shaibah menyebut bahawa `Ali KW menunjukkan bahawa permulaan takbir bermula sejurus selepas solat Subuh hari Arafah sehingga hujung waktu ‘Asar hari ketiga Tashriq. 

f)  Berkorban : Allah SWT berfirman : ertinya : "dan berdoalah dan berkorban". Allah SWT juga menyebut :
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوب

Ertinya : "Sesiapa yang membesarkan syiar Allah (berkorban) mala ia adalah dari tanda ketaqwaan hati" (Al-Hajj : 32) 

Sebuah hadis menyebut  :
ما عمل آدمي من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم

Ertinya : "Tiadalah amalan anak Adam yang lebih disukai oleh Allah SWT pada hari kurban kecuali berkorban ( dengan menyembelih binatang)" ( Riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud ; Gharib, namun terdapat rawi yang dipertikaikan)

POTONG KUKU, RAMBUT & HUKUM QURBAN
 
Hukum berkorban adalah sunat muakkad (yang dituntut) bagi orang yang mempunyai lebihan dan kemudahan harta. Demikian pendapat majoriti ulama termasuklah sahabat besar seperti Abu Bakar as-Siddiq r.a, Umar al-Khattab r.a,  Ibn Mas'ud r.a dan lain-lain, kecuali Imam Abu Hanifah berpendapat ianya WAJIB bagi mereka yang berkemampuan.[1]
 
Bagi menggandakan pahala korban, seseorang yang sudah berniat awal untuk melakukannya digalakkan menahan diri dari memotong rambut dan kuku. Ia berdasarkan hadith riwayat Muslim yang sohih, iaitu :-

من أراد أن يضحي فدخل العشر فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره شيئاً حتى يضحي 

Ertinya : Barangsiapa yang ingin menyembelih ( berkurban ), dan telah masuk sepuluh awal Zulhijjah), maka janganlah dia memotong apa-apa rambut atau kukunya  SEHINGGALAH sampai korban dilaksanakan" ( Muslim, 3/39 ) 

Justeru, majoriti ulama dari mazhab Maliki, Syafie dan sebahagian Hanbali menyatakan makruh hukumnya bagi melanggarnya.
Bagaimanapun ia tiadalah termasuk dalam kategori haram kerana Aisyah r.a pernah meriwayatkan bahawa beliau pernah menempah (menandakan dan membeli binatang) dan diniatkan untuk dilakukan Qurban, dan Aisyah r.a menyebutkan, tiadalah Nabi SAW mengharamkan apa-apa (semasa menunggu masa untuk menyembelih) sehinggalah sampai waktu sembelihan. Hadis tersebut adalah sohih riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Oleh itu, adalah dibenarkan untuk memotong kuku jika ia boleh mengganggu kesempurnaan wudhu dan lain-lain kewajiban. 

TIDAK DIBENARKAN juga berkorban hanya dengan membayar harganya atau membeli daging lembu yang telah disembelih dari pasar lalu disedeqahkan atas niat Qurban. Tatkala itu, ia dianggap sedeqah biasa sahaja dan bukannya Qurban yang disyariatkan di hari raya Aidiladha. 

Pahala Qurban adalah jauh lebih hebat dari bersedeqah harganya sahaja. Ia adalah fatwa oleh majoriti ahli ilmu seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafie, Ahmad dan lain-lain.  [2]
 
Adalah diingatkan jua agar meniatkan Qurban itu adalah kerana Allah SWT semata-mata, menuruti sunnah Nabi SAW dan Nabi Ibrahim a.s dan bukannya untuk menyedeqahkan daging atau lain-lain niat.
Firman Allah :
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Ertinya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Hajj : 37) 

KONGSI LEMBU 

Harus hukumnya menurut majoriti ulama untuk berkongsi seekor lembu dengan dibahagikan kepada 7 bahagian atau seekor kambing berdasarkan hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir r.a. [3]
Adalah digalakkan juga untuk menyembelih sendiri (jika berkemampuan) atau menghadiri majlis sembelihan.
Sebuah riwayat hadith pernah mencatatkan nasihat Nabi SAW kepada Fatimah yang ingin berqurban : 

احضري أضحيتك، يغفر لك بأول قطر من دمها

Ertinya : "Hadirkanlah dirimu di waktu sembelihan, diampunkan bagimu dari titisan darah sembelihanmu yang pertama" 

BINATANG TERBAIK UNTUK KURBAN
 
Yang terbaik adalah unta, diikuti oleh lembu, kerbau, kemudian biri-biri, kambing dan jika tidak mampu bolehlah 1/7 dari unta, lembu, kerbau.
Yang terbaik sudah tentulah yang paling banyak dagingnya maka lebih ramai mendapat merasai dan manfaatnya. 

PEMBAHAGIAN DAGING
 
Daging qurban yang telah siap dilapah bolehlah dibahagikan SEPERTI BERIKUT :
1/3 (sepertiga) kepada tuan rumah yang berqurban,
1/3 (sepertiga) kepada faqir miskin termasuklah jirannya dan saudara mara dan
1/3 (sepertiga) lagi bagi sesiapa yang memintanya.
Ia berdasarkan firman Allah SWT :

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Ertinya : "Dan makanlah ia, dan berikanlah ia kepada orang yang susah dan faqir." (Al-Haj : 28) dan juga firman Allah : 

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

Ertinya "Dan makanlah ia, dan berikanlah kepada orang yang memintanya dan yang tidak memintanya" (Al-Haj : 36)

Inilah yang dilakukan oleh Nabi SAW sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a dan Ibn Umar r.a. Namun demikian HARUS (DIBENARKAN) untuk tidak mengikut cara pembahagian ini SAMADA UNTUK MAKAN KESELURUHANNYA ATAU KEBANYAKKANNYA. [4]
 
Bagaimanapun DILARANG untuk memberikan tukang-tukang lapah dan penyembelih upah atas usahanya (iaitu dengan ditetapkan dari awal), bagaimanapun ia harus jika dia termasuk dari kalangan faqir miskin atau diberikan secara sukarela orang ramai sebagai hadiah. 

TIDAK DIBENARKAN juga sepakat ulama untuk menjual dagingnya.
Namun tidak sepakat berkenaan penjualan kulit, bulunya dan tulang hasil Korban. Majoriti mazhab termasuk Syafie tidak membenarkan. [5]
 DIBENARKAN untuk menyimpan daging-daging kurban walaupun melebihi 3 (tiga) hari berdasarkan hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Muslim. 

MEMBERI DAGING KORBAN KEPADA ORANG KAFIR
 
Ulama berbeza pendapat dalam hal ini, sebahagian mazhab mengatakannya HARAM, ada yang mengatakannya MAKRUH dan Mazhab Hanbali, Hanafi mengatakannya sebagai HARUS kerana ia bukannya sedeqah wajib. [6]
Namun tiada khilaf, mendahulukan umat Islam adalah lebih utama dalam hal ini. 

BERKORBAN ATAU MEMBAYAR HUTANG
 
Bolehkah seorang yang dibebani hutang bank dan rakan berkorban sekali setahun demi tawaran pahalanya?.
Justeru, untuk menentukan keutamaan samada menjelaskan hutang atau melakukan ibadah kurban kita perlu melihat kepada jenis hutang, tempoh janji bayaran semula dan kemampuan orang yang berhutang.
Jika ia adalah dari jenis hutang yang telah terancang pembayarannya seperti hutang bank dan selepas ditolak semuanya masih ada baki wang, tatkala itu individu tersebut sewajarnya melihat dan memikirkan berkenaan hutang tidak rasmi dari individu lain atau rakan-rakan serta tempoh yang dijanjikan. 

Jika tempoh langsaian hutang masih jauh dan diyakini pendapatan akan datangnya boleh menampung semunya tanggungjawab wajib itu. Di ketika itu  barulah ibadah kurban menjadi utama untuk dilaksanakan. 

Ia amat jelas kerana ibadah kurban hanya sunat muakkad sahaja menurut majoriti mazhab mankala langsai hutang dalam tempohnya adalah wajib.
Jika disebabkan oleh ingin berkorban sehingga menyebabkan rakan pemberi hutang pula ‘TERKORBAN', hubungan persaudaraan ‘terkorban', atau hingga menyebabkan pihak bank mengenakan penalti kerana lewat bayar, tidak wajar sama sekali untuk berkorban juga. Keutamaan tetap bagi pelangsaian hutang berbanding berkorban. Demikian pandangan ringkas saya. 

KORBAN OLEH ORGANISASI & SYARIKAT?
 
Ramai yang bertanya dan ramai juga yang melakukan amalan ini. Adakah sebuah syarikat boleh mengeluarkan budjet tertentu untuk membeli dua puluh ekor lembu dan berkorban atas nama syarikat?
Jawab ringkas saya: 

"tidak boleh !" 

Ibadah korban adalah ibadah yang dilakukan oleh individu tertentu atau untuk individu tertentu. Ia bukan untuk organisasi yang bukan manusia. Justeru, ia sebuah organisasi ingin melaksanakannya, ia MESTI menghadiahkannya kepada mana-mana Pengarah atau kakitangannya.
Ketika itu korban barulah sah dan ia menjadi korban oleh individu yang ditentukan namanya sahaja dan bukan atas nama syarikat. Pihak syarikat terbabit boleh bergilir-gilir menghadiahkan lembu tertentu dan bahagiannya DIHADIAHKAN kepada kakitangan secara khusus UNTUK DILAKSANAKAN sembelihan atau korban, pahala korban akan hanya diperolehi oleh individu dan pihak organisasi pula (iaitu pemilik organisasi iaitu manusia) hanya mendapat pahala kerana ‘menghadiahkan' lembu atau bahagiannya kepada kakitangan sahaja.
Jika pihak syarikat tidak mahu berbuat demikian, bermakna ia mestilah meletakkan secara specific 20 ekor lembu itu, untuk para lembaga pengarahnya secara khusus juga. Ia bukan atas nama syarikat tetapi individu. 

APAKAH HAJI AKBAR ?
 
Nabi SAW menamakan hari sembelihan iaitu 10 Zulhijjah  sebagai Haji Akbar. (Riwayat Abu Daud dengan sanad sohih : Ibn Qayyim dan Albani).
Sayyidina Ali Abi Talib juga pernah ditanya tentang apakah itu Haji Akbar, beliau menjawab:
"Ia adalah hari sembelihan (iaitu haji raya pertama). (Riwayat at-Tirmidzi) 

Menurut Ulama itulah yang dimaskudkan di dalam ayat surat At-Taubah.
Bagaimanapun sesetengah ulama membawakan hujah mereka mengatakan Haji Akbar itu adalah Hari Arafah [7]. Setengah ulama pula bersama sahabat seperti Ibn Abbas r.a dan Ibn Umar r.a yang menyatakan bahawa Haji Akbar itu adalah hari arafah yang jatuhnya pada hari Jumaat dan pahalanya disebut sehebat 70 kali pahala Haji biasa, Ia juga disebut oleh Imam al-Ghazzali, ini bermakna pada Haji Akbar, semua orang yang berada di Arafah akan diampunkan. Ia berdasarkan satu hadith yang diriwayat oleh Razin dalam Tajrid as-Sihhah, bagaimanapun al-Munawi menolak hadith itu dengan katanya "tiada asalnya". 

Kesimpulannya : Terdapat para sahabat mengatakan Haji Akbar itu adalah hari Arafah yang jatuh pada hari jumaat, mankala Ali k.w pula mengatakan ia adalah hari Qurban pada 10 zulhijjah dan setengah yang lain pula menyebut ia adalah semua hari-hari wuquf di Mina ( hari Tasriq). 

Akhirnya, adalah amat perlu dipastikan bahawa tarikh hari raya ‘Idil adha ini menurut ijtihad pemerintah kerajaan Saudi bagi menyatukan umat Islam di seluruh dunia ( kecuali jika benar-benar sesebuah Negara itu mengikut rukyah), tanpa rukyah maka kiraan yang terbaik adalah dengan menuruti Saudi. Dengan itu, kekeliruan yang sering berlaku sebagaimana mencari Lailatul Qadar dan hariraya idilfitri akan berterusan. wallahu 'alam 

Sekian 

Oleh
Zaharuddin Abd Rahman
 www.zaharuddin.net

[1] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/ 197
[2] Al-Majmu, 8/425 ; Al-Mughni, 9/436
[3] Al-Majmu, An-Nawawi, 8/313
[4] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/200
[5] Bidayatul Mujtahid, Ibn Rusd Al-Hafid, 1/321 ( cet Maktabah al-Riyadh al-Hadithiyah) ; Rawdah At-Tolibin, An-Nawawi, 3/225
[6] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/201
[7] Ahkam al-Quran, Al-Jassas

Minggu, 07 November 2010

Si Manual bisa mengejutkan Si Sistematik



Alhamdulillah pada kali ini, penulis mengajak para pembaca untuk melihat suatu fenomena tentang pekerjaan yang melayani seseorang dalam proses pengurusan masalah. Di sini penulis tidak menyentuh perkara secara jelas drastik karena untuk mengelak salah tafsiran salah satu pihak tentang perkara yang ingin diluahkan. Melainkan, hanya untuk meneliti suatu proses yang sudah lama tidak berubah bahkan sampai berpuluh tahun. Perbandingan antara Negara yang pernah penulis jejaki untuk menghabiskan masa diplomanya. Dari dahulu hingga detik ini, perkara ini masih saja menguntungkan sesetengah pihak untuk menjadikan jenayah dalam pengurusan. Maksud yang akan penulis nyatakan ialah tentang pengurusan administrasi (officer service) dalam memproses suatu masalah yang diajukan oleh pemohon. Perbandingan antara Negara diploma penulis dengan Negara degree penulis, adalah untuk membuka mata para pengambil untung di atas kesusahan pemohon.

Dalam peringkat degree penulis sekarang ini, ditakdirkan menyambung pelajarannya di Negara tempat kelahirannya. Walaupun keinginan pertamanya tidak demikian. Perkara yang akan penulis sentuh di sini adalah mengenai pengurusan bagi ahli baru yang melanjutkan studinya di Negara penulis lahir. Ahli baru yang dimaksudkan adalah saudara mara dari Negara Jiran yang merampung studinya di Negara Republik. Dari awal menginjak kaki di bumi Republik ini, mulailah melayani diri dengan masalah yang jauh berbeza dari tempat lahir ahli baru. Bahkan bisa terfikir jauh diluar jangkaan yang terbenak di hati selama ini. Ketidak puasan mulai terasa hari demi hari, perbandingan mulai dibandingkan antara dua komuniti serumpun. Sehingga lahirlah ide dari penulis untuk meluahkan rasa yang tidak sepatutnya dilakukan pada zaman modern ini. Penulis penuh peka dalam menyatakan aspirasinya, sejak merantau ke oversea timbullah perbandingan antara dalam dan luar komuniti serumpun. Penulis tahu kebiasaan dalam birokrasi country dimana penulis dilahirkan adalah adat turun menurun dari moyang hingga cicit sekarang ini.

Di sini, penulis sudah berjanji tidak menyentuh isu yang dibangkitkan secara jelas tanpa memerlukan proses prosa, majas dan sindiran. Melainkan penulis lebih tertarik mengupasnya dengan samar-samar sehingga maksud yang ingin disampaikan dapat difahami dengan nalar (insting) seorang pelajar yang ingin perubahan bukan kapada si pengkritik semata-mata tanpa anjakan paradigma. 

Si Manual adalah suatu proses penyelesaian masalah dalam birokrasi dengan cara tidak memakaikan kemudahan yang sudah tersedia ada (logikal yang penulis maksudkan). Si Sistematik adalah suatu proses perpecahan masalah dalam urusan birokrasi dengan cara mudah dan cepat di atas pemakaian alat bantu yang sudah sedia ada sehingga masalah selesai sesuai harapan (logikal penulis maksudkan).

Sitem sistematik, biasa dipakai oleh Negara diploma penulis. Dan pula Manual masih dipakai oleh Negara degree penulis walaupun teguran berkali-kali divoniskan oleh orang pertama dalam pemerintahan. Kesempatan ini, Si Manual memanfaatkan untuk meraih keuntungan yang besar tanpa menghiraukan kepuasan atau tidak ahli baru (pemohon baru dalam proses sambung belajarnya). Kebetulan ahli baru ini, adalah kawan akrap penulis jadi luahan birokrasi sering kedengaran sehingga terkadang menyanyat hati penulis untuk menceritakan perkara sebenarnya. Maka dengan ada laman alternatif ini dapatlah penulis mengambil kesempatan untuk memberi sedikit pandangan yang termampu. Nasihat penulis selalu mewarnai cabaran ahli baru dalam meniti hari-harinya. Si Manual tidak kapok-kapoknya (tidak pernah insaf) bahkan tertawa di atas penderitaan orang lain. Ini adalah budaya tidak patut lagi diamalkan oleh Negara yang menjunjung tinggi hukum. Analisis menyatakan, bahwa Negara si Manual adalah antara Negara yang mengatas namakan hukum hanya teori semata-mata bukan karena aplikasinya atau perlaksanaannya.

Cabaran penghijrahan minda ini, akan dirasai terus menerus oleh ahli baru seadainya ia masih sahaja menyamakan dimana proses pengurusan sama dengan tempat kelahirannya. Tajdid minda perlu diperbetulkan di atas perubahan tempat menuntut. Jadi jangan sampai terbawa ke arus failed tercelaru dari hakikat tujuan yang sebenar.  
Harapan penulis,  

Kepada wakil pengirim ahli baru,
  1.  Seharusnya meneliti dengan penelitian yang mendalam sebelum akad dibuat.
  2. Mengambil berat isu yang dihadapi ahli baru disaat proses pengurusan dan pembelajaran di Negara hirahnya.
  3. Betindak secara adil kepada Si penerima/Manual sekiranya melanggar janji persefahaman.
  4. Diharapkan agar memproses semua pengurusan dalam bentuk tertulis, untuk memudahkan ke dua belah pihak.
Kepada wakil penerima ahli baru, (Republik)
  1. Semestinya berhati-hati dalam membuat janji, seandainya tidak dapat dipenuhi, dianjurkan agar jangan berkata kosong.
  2.  Melakukan segala kewajipan dengan hati yang ikhlas bukan atas unsur material semata-mata. 
  3. Belajar daripada kesalahan.
  4. Berlapang dada dengan nasehat dan teguran.
  5. Patuh kepada atasan (ketua).
  6.  Memantau dan memulia tetamu yang sedang menuntut. (ahli baru).
Dari harapan di atas, dapatlah penulis menyimpulkan bahwa perjanjian yang dibuat ini masih lagi diperlukan tanda tanya, adakah ianya dibuat berdasarkan kelalaian, lepas tangan dari suatu masalah, atau dibuat tidak mengikut aturan yang berlaku yaitu tidak tertulis dalam hitam putih, atau hanya sandiwara bisnes semata-mata yang hanya menguntungkan pihak yang tertentu sahaja. Inilah analisis, yang dapat penulis huraikan di atas luahan ahli baru yang teraniaya dalam dekan ini.

Kenyataan inilah, yang dapat memeranjatkan si Sistematik disebabkan tindakan Manual yang ceroboh dalam menyelesaikan permasalahan. Harapan penulis juga, supaya adik-adik ahli baru nantinya tidak merasakan apa yang dirasakan abang ahli baru saat ini. Biarlah ujian ini menjadi pengalaman yang berharga bagi ahli baru, diharapkan hari kemudian lebih baik dari hari ini. Amin…

Rabu, 27 Oktober 2010

3 Tragedi Berlaku Sekaligus, INDONESIA MENANGIS LAGI



Hari ini tanggal 26 0ktober 2010, Indonesia diuji lagi dengan berlaku 3 bencana Alam sekaligus. Pertama, meletus gunung merapi, kedua, gempa di Padang kepulaan Mentawai dan ketiga banjir di ibukota Jakarta. Inilah cobaan bertubi-tubi Allah uji kepada ummatnya agar menjadi pelajaran. Padahal sebelum ini sudah banyak peristiwa-peristiwa terjadi yang mengorbankan ramai jiwa yang tak berdosa. Mungkin ini adalah suatu bentuk teguran Sang Khaliq kepada ummatnya yang sudah lalai dengan hal dunia yang fana.
Disini penulis ingin berbagi duka cita derita bumi republik ini. Berikut adalah gambar2 peristiwa berlaku hari ini:
a.   Gambar meletup gunung merapi di Yogyakarta







YOGYAKARTA, Semburan awan panas yang keluar dari mulut Gunung Merapi. Bertempat di Desa Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Yogyakarta. Kondisi puncak Gunung Merapi terus mengeluarkan asap solfatara saat direkam dari perbukitan yang berjarak sekitar dua kilometer dari puncak di Dusun Pajekan, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Selain asap solfatara yang terus keluar juga terjadi peningkatan guguran material vulkanik berupa batuan berasap yang disertai suara gemuruh.

b.    
Gambar runtuhan gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai, Padang.






Padang, Kepulauan Mentawai, inilah gambar yang sempat direkam dari arah dekat iaitu puing-puing rumah dan bangunan-bangunan runtuhan dari gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR), bertempat di 3,61 Lintang Selatan-99,93 Bujur Timur, dan berpusat di 78 km barat daya Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Berikutnya Jumlah korban disebabkan gempa tadi dan juga diikuti dengan tsunami  kecil yang melanda Kabupaten Kepulauan Mentawai ialah bertambah menjadi 112 orang. Sehingga diprediksi ombak tsunami mencapai 4-5 meter diperairan pantai barat Sumbar.

c.   Gambar sebagian kota Jakarta dilanda banjir








Jakarta, Pengungsi banjir di Jakarta sampai hari ini sudah mencapai 510 orang. Sebahagian pengungsi mulai mengeluhkan terkena diare/ciret biret dan penyakit kulit.  Jumlah pengungsi di bekas Bioskop Nusantara (Jatinegara Barat, Jakarta Timur) saat ini berjumlah 215 orang. Sedangkan total pengungsi yaitu di Kelurahan Kampung Melayu .
Inilah rentetan bala dari Allah swt untuk peringatan kepada ummatnya baik di seluruh dunia amnya maupun di Indonesia khasnya. Indonesia menjadi Negara muslim terbanyak diuji oleh Allah swt khususnya tsunami dan meletus gunung merapi. Mungkin inilah ujian bagi Negara majoriti Islam di dunia yang tidak mengamalkan perintah Sang Pencipta.
Disini penulis mengambil kesempatan untuk meminta para muslimin dan muslimat agar menyalurkan bantuan baik material maupun fisikal. Ataupun berupa doa agar para korban bencana diberi kesabaran dalam ujian yang bertubi-tubi ini.

Selasa, 26 Oktober 2010

Coretan awal di bumi Lampung



Alhmdulillah, akhirnya pada tanggal 17-09-2010 hari Jum’at kami rombongan pelajar dari Malaysia (Kias Darulnaim) seramai 11 orang dan ditemani oleh Dr.Idris Timbalan Eksekutif (HEA) sampai ke Lampung. Syukur tak terhingga dan tak terduga-duga apa yang kami impikan di Lampung itu tercapai juga. Kesungguhan dan kesabaran yang kami mimpikan itu akhirnya menjadi kenyataan. Bayangkan baru aja kami sampai ke Lampung, disambut penuh penghormatan dari pihak IAIN (pak Rektor, pembantu2nya, dan juga kaki tangan). Bertambahlah rasa gembira dalam hati ini walaupun rasa penat masih lagi diselubungi.  
   
Setelah perjumpaan dengan dihidangi jamuan makan malam di aula, terus kami di persilahkan ke kamar masing2 di Asrama tempat kami di sambut para pihak IAIN tadinya. Bila sampai dipintu pagar Asrama hati kami terkejut, terpengang, ta’ajub sejenak disebabkan Asrama yang akan kami tumpangi ini sungguh di luar jangkauan, ianya adalah sangat indah dan selesa. Jauh sangat berbeda dengan penginapan kami ketika belajar di Malaysia dulunya. Inilah nikmat pelajar agama dengan kenikmatan datang yang tak disangka-sangka.
Sekali lagi kami terdiam dengan kemudahan yang ada ketika memijak kaki di kamar yang sudah didaftar nama kami, ya disebabkan infrastrukturnya yang lengkap dan sungguh nyaman. Bila liat tilam yang terbentang luas didepan mata terus terjun untuk menghilangkan penat lelah yang sudah seharian dalam perjalanan bermula dari Kota Bharu, Kelantan sampai ke IAIN Raden Intan Lampung. Alhamdulillah Allah selalu membantu umatnya yang sentiasa ingat KepadaNya.Amin. Harap ini semua adalah permulaan yang baik dan nantinya.

Keesokan harinya, kami 11 orang berangkat ke pejabat direktorat untuk mendaftar menjadi pelajar yang sah di IAIN Raden Intan. Alhamdulillah akhirnya semua terdaftar juga walaupun ada sedikit masalah pada awalnya mungkin cara proses pengurusan disini agak berlainan karena masih memakai sistem manual berbanding proses di Malaysia. 

Berikut gambar-gambar lokasi IAIN RADEN INTAN LAMPUNG yang sempat saya tangkap dengan handphone:






















           
     
       Untuk sementara hanya ini dulu dapat dipublish, kerana masa kami belum teradaptasi. Mungkin setakat disini dulu tentang perjalanan dan suasana di bumi Lampung ini. Wassalam...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More