AHLAN WASAHLAN....


Jumat, 03 Desember 2010

SEMOGA AKU SEORANG MUSLIM SEJATI ; Coretan Hatiku

 Gambar hiasan

Sebagai seorang Muslim sejati aku akan meyakini bahwa aku berada dalam kebenaran. Bagiku Islam adalah hidayah dan nikmat yang telah ALLAH SWT karuniakan kepadaku karena keyakinanku tidak mungkin bersifat tentatif. Hanya dengan keyakinan seperti ini aku mampu menyampaikan pesanan Tuhan dengan pasti [‘ala basiratin]. Karena diperkuat dengan ilmu, keimananku terhadap ALLAH SWT dan Nabi Muhammad serta risalah yang dibawanya tidak akan goyah meski terdapat tuduhan dan distorsi ke atas ajaran Islam.

Setelah aku mendalami ilmu-ilmu Islam dan bukan secara apriori maupun taqlid aku mengerti bahwa iman bukan hanya suatu kepercayaan, tetapi merupakan keyakinan di dalam lubuk hati, pernyataan melalui lisan dan dibuktikan dengan perbuatan sebagai tanda berserah diri kepada kehendak ALLAH Yang Maha Esa.

Aku memahami bahwa ibadah bukan hanya sebatas ritual dan spiritual tetapi sebagai penghambaan diri kepada ALLAH SWT dalam segenap bidang kehidupan. Keyakinanku akan kebenaran ajaran Islam bertitik tolak dari pada keyakinanku bahwa knowledge is possible dan seperti diungkapkan oleh al-Nasafi bahwa hakikat sesuatu itu tetap dan ilmu mengenainya adalah sesuatu yang pasti haqa’iq al-ashya’ thabitah wa al-ilmu biha mutahaqiqun. Aku setuju dengan pandangan para sarjana Muslim seperti Muhammad Iqbal, al-Attas, dan al-Faruqi, bahwa masalah utama umat Islam adalah krisis ilmu. Bahwa jalan untuk mengembalikan kegemilangan tamadun Islam adalah melalui pemerkasaan budaya ilmu, pencerahan dan pemberdayaan umat.

Maka tanggung jawab para cendekia Muslim adalah membebaskan umat dari belenggu kejahilan termasuk kejahilan tentang Islam itu sendiri. Pada hari ini yang menjadi kendala adalah kekeliruan epistomologi: ketidakmampuan kaum intelektual muslim mengatasi polemic akal dengan wahyu telah menambah lagi kekeliruan dan kejahilan ini. Aku melihat bahwa justru sebagian intelektual Muslim dipengaruhi oleh pemikiran sekuler Barat dan terperangkap dalam dikotomi: Liberal versus Literal, Sakral versus Mundane, objektif versus subjektif, progresif versus konservatif, teokrasi versus demokrasi. Dualisme dan dikotomi berlaku di Barat karena kegagalan Gereja mengakomodasi modernity dan kemajuan manusia.

Bagiku, Islam telah memberikan kedudukan yang sewajarnya kepada akal. Cukup tinggi karena dengannya misi kekhalifahan hanya mungkin tercapai tetapi tidak terlalu tinggi untuk didewakan atau disejajarkan dengan wahyu. Akal dan kebenaran yang diperolehinya tidak berdiri sendiri. Setelah mendalami epistomologi Islam, aku mengerti bahwa kebenaran sains harus akur dengan keterbatasannya dan bahwa dalam perkara-perkara tertentu tidak mampu menjelaskan secara saintifik. Bagi kaum secular kebenaran sains dan kebenaran agama dilihat secara terpisah.

Bagiku kebenaran sains adalah kebenaran yang datang dari Tuhan, karena sains mengkaji kejadian fenomena makhluk Tuhan yang mengikuti sunnatullah. Demikian juga kebenaran wahyu tidak akan bertentangan dengan kebenaran akal, jika akal memperolehnya dengan metode yang benar. Sebagai seorang Muslim sejati, aku mengerti bahwa al-Qur’an sebagai pembimbing akal telah menjelaskan hakikat-hakikat kehidupan ini dengan begitu gamblang. Tugas akal fikiran hanya perlu memahaminya dan mengembangkannya.

Bagiku, tiada dikotomi antara al-Qur’an dan akal, keduanya berjalan seiring, karena seperti dinyatakan oleh mantan Syekh al-Azhar Abdul Halim Mahmud, al-Qur’an adalah kitab akal karena seluruh kandungan al-Qur’an mengarah kepada pembebasan akal dari lingkungannya yang sempit. Rabunnya umat Islam dalam membaca dan lumpuhnya mereka dalam berfikir tiada kaitan dengan al-Qur’an.. Karena sehebat manapun pembimbing tidak akan bermakna apa-apa kalau yang dibimbing tidak ada kemauan untuk memperbaiki dirinya. Oleh karenanya aku sadar, dalam hal ini bukan salah Islam sehingga ia perlu dirubah dan bukan salah Barat sehingga ia perlu dimusuhi, tetapi salah umat Islam karena memiliki apa yang dikatakan oleh Muhammad Iqbal “ego khudi yang lemah” atau meminjam istilah Maliki Bennabi, mempunyai sikap Qabiliyyat li al-istimar [kecenderungan untuk dijajah].

Dalam menghadapi kemajuan [modernity] yang pada hari ini disinonimkan dengan Barat, aku tidak akan bersikap terlalu terbuka [silau] dan juga tidak tertutup [konservatif] .. Islam mengajarkan untuk selalu berusaha menggapai kecemerlangan dan membangunkan diri, bangsa dan masyarakat. Melalui pembacaanku, aku sadar bahwa Islam telah disalahfahami oleh sebagian umat Islam yang anti kemajuan dan anti perubahan. Tetapi juga di sudut yang lain, Islam telah disalahfahami oleh golongan Muslim secular yang menganggap agama sebagai penyebab kemunduran, oleh karenanya, menurut mereka agama perlu dibatasi hanya pada ruang lingkup kehidupan pribadi.

Untuk mengatasi dualisme pemikiran ini, aku menyadari perlunya rekonsepsi [membetulkan kefahaman] terhadap Islam. Melalui penulisan para sarjana Muslim yang otoritatif aku mengerti bahwa Islam sebenarnya bersifat transformatif- liberatif: membawa misi perubahan dan pembebasan manusia sebagaimana terbukti pada generasi awal Islam.

Apabila realitasnya pada hari ini Islam tidak menjadikan umat Islam maju dan bebas dari segala bentuk belenggu dan penindasan, ini bermakna wujudnya korupsi dalam memahami Islam. Aku yakin seandainya Islam dipahami dengan betul dan dilaksanakan dengan baik maka Islam mampu menjadi civilizing force, sebagaimana terbukti dalam sejarah Islam. Aku akan menjadikan tradisi sebagai landasan untuk berpijak. Bagiku tiada sebab mengapa aku harus membenci tradisi karena ia tidak membelengguku untuk maju dan menjawab permasalahan zaman mengikut keyakinanku.

Bagiku, masa lalu amat penting karena tiada seorang pun manusia yang mampu mengetahui jati dirinya tanpa mengetahui masa lalunya. Aku berbangga dengan pencapaian para ulama Islam, meskipun aku sadar kebesaran mereka tidak seharusnya menjadikan generasi hari ini kerdil. Justru, dengan khazanah yang mereka tinggalkan aku harus mampu lebih maju lagi kedepan.

Ketinggian golongan ulama bagiku adalah karena taufiq dan inayah ALLAH SWT dan dekatnya mereka dengan nuansa dan legasi yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Karenanya, baik ulama klasik maupun kontemporer adalah golongan yang diberi amanah oleh ALLAH SWT dan bukan status social maupun keagamaan yang bisa dibanggakan. Oleh karenanya, amanah ini mesti dilaksanakan dengan berani dan jujur. Namun demikian, aku sadar mereka tidak suci atau maksum dan mereka bukan wakil Tuhan.

Segala pandangan mereka harus kuterima selama mereka punya hujjah yang kuat dan terbukti kebenarannya, namun andainya terbukti bahwa pandangan mereka ternyata tidak benar atau bertentangan dengan kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka tidak perlu kuterima. Sepanjang pengetahuanku, golongan ulama ini tidak bisa disamakan dengan golongan agama yang punya hak paten dalam memahami agama dan berbicara atas nama Tuhan. Karena bagiku, semua orang Islam adalah golongan agama yang seharusnya menjadi wakil Tuhan di muka Bumi.

Aku mempelajari filsafat Barat untuk tujuan perbandingan. Aku tidak akan terikut-ikut karena sebagai seorang Muslim aku memilikiworlview dan framework tersendiri dalam berfikir. Aku tidak tertegun dengan konsep cogito ergo sumnya Descartes atau Existence preceeds essencenya Sartre, atau knowledge is powernya Foucalt dan Bacon, bahkan dalam perkara tertentu aku langsung tidak tertarik untuk mengagungkan contohnya Locke karena konsep natural rights: Life, liberty, and property.

Aku tidak merasa heran dengan filsafat Barat karena aku sudah terlebih filsafat Barat karena sudah terlebih dahulu mengetahui bahwa, seperti diungkapkan oleh Muhammad Iqbal, ”the Birth of Islam is the Birth of inductive knowledge”, juga seperti diungkapkan oleh al-Ghazali dan al-Shatibi bahwa hukum Islam sebenarnya dibuat untuk melindungi kemashlahatan kebaikan ummat manusia: agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta.

Aku mempelajari pemikiran Barat untuk memahami Barat. Dengan demikian aku dapat memperkukuh keyakinanku dan kalau aku mampu, seperti yang telah dilakukan oleh Imam al-Ghazali membatalkan tesis-tesis mereka yang mengelirukan dan dengan itu aku telah berjuang untuk Islam.

Sebagai seorang Muslim aku percaya bahwa akal tidak bisa dijadikan standing dengan wahyu. Sebagai peneliti Muslim aku percaya bahwa pencarian akal dalam Islam dibimbing oleh wahyu. Oleh karenanya terdapat ruang yang pasti di mana tidak perlu untuk akal bereksperimen di samping juga ruang untuk perbedaan penafsiran selama dalam framework Islam.

Teori mengenai realitas kehidupan yang selalu berubah dan terlalu dominannya elemen subjektifitas dalam filsafat Barat, bagiku membuktikan bahwa Barat dengan rasionalismenya tidak akan menemukan jalan kebenaran. Maka aku mendapati bahwa semakin jauh pengetahuanku terhadap filsafat Barat semakin dekat diriku terhadap kebenaran Islam. Islam mengajarku agar mengambil hikmah kebijaksanaan dari mana saja datangnya. Oleh karenanya tidak salah, malah digalakkan, mempelajari Sains dan Teknologi yang hari ini dikuasai oleh Barat agar dengannya ummat ini dapat mengecapi kemajuan dan merealisasikan misinya sebagai khalifah ALLAH SWT di muka Bumi.

Aku akan mempelajari filsafat Barat agar aku mampu untuk membuat perbandingan dan penilaian sebelum aku mampu menyumbang dalam wacana keintelektualan Islam. Namun, aku sadar sebagaimana ditekankan oleh al-Attas bahwa ilmu pengetahuan Barat tidak value-free [bebas nilai], aku tetap akan meyakini hal ini walaupun andainya Thomas Kuhn tidak menulis “The Structure of Scientific Revolutions”nya, oleh karenanya aku harus mampu membedakan antara ilmu dengan nilai-nilai secular yang mengiringinya sebelum proses Islamisasi dapat kulakukan. Penghormatanku terhadap keintelektualan Barat tidak seharusnya menjadikanku hanyut sehingga merubah jati diriku.

Sebagai seorang Muslim sejati, aku akan melaksanakan Islam sebagai satu cara hidup yang lengkap, oleh karenanya aku akan menentang sekularisme dan sekularisasi di dunia Islam. Bagiku, orang yang memisahkan Islam dari segenap aspek kehidupan manusia adalah orang yang sombong dan congkak. Karena menganggap panduan dan bimbingan akal yang dicipta oleh manusia-manusia sekular, lebih baik dari pada petunjuk al-Qur’an.

Aku sadar, keadilan dan keharmonisan dan keamanan hanya akan tercapai sepenuhnya dengan mengikut ajaran al-Qur’an. Sedangkan demokrasi liberal, kapitalisme, utilitarianisme dan isme-isme lainnya hanya menjanjikan angan-angan. Alasannya jelas, ketika Islam berbicara mengenai keadilan, kesejahteraan, dan keharmonisan ia dikemas dengan keindahan iman, taqwa, dan akhlak, sedangkan filsafat Barat membicarakannya secara dikotomis.

Aku mengerti bahwa tipologi memberikan kelebihan kepada Barat, karenanya aku harus berhati-hati agar tidak terpengaruh dengan labelisasi mereka. Label fundamentalisme diberikan oleh media Barat, dengan pelbagai konotasi negatifnya: terorisme, militan dll., ke atas orang Islam yang menjadikan Islam sebagai cara hidup. Kalau ternyata istilah fundamentalis tidak digunakan oleh media terhadap penganut agama lain yang melakukan hal yang sama maka jelas pelabelan ini memiliki niat yang tersembunyi.

Dengan andaian ancaman gerakan fundamentalisme inilah maka dimasukkan wacana liberal dalam pemikiran Islam. Tidak sedikit yang terperangkap dalam dualisme dan dikotomi ini, oleh karenanya, dengan ilmu dan kebijaksanaan yang diberikan oleh Islam, aku tidak seharusnya ikut terperangkap. Andai dapat dibuktikan bahwa kemunculan golongan yang dikatakan fundamentalis ini tidak mengancam maka jelas bahwa eksistensi mereka sebenarnya tidak berasas.

Bagiku, metode hermeneutika hanya pantas diterapkan pada Bible. Ini karena baik dari segi sejarah maupun kandungan, al-Qur’an dan Bible jauh berbeda.Tiada sebab untuk aku mengikuti metodologi penafsiran Bible karena aku tidak mengalami masalah yang dialami oleh penafsir-penafsir Bible. Mempelajari al-Qur’an dengan ilmu, iman, dan kejujuran membawaku kepada keyakinan akan kesempurnaan al-Qur’an. Tiada satupun ayat di dalamnya yang boleh dikatakan bermasalah atau kontradiktif. Selain itu, sebagaimana terbukti dengan kajian al-Azami: ”The History of Quranic Text”, keistimewaan al-Qur’an adalah terjaganya, kemurnian dan kesucian al-Qur’an sepanjang sejarah. Hal inilah yang sehingga kini dicemburui oleh kaum orientalis yang berusaha untuk menggoyahkan keyakinanku ini.

Penafsiran literal terhadap al-Qur’an memang sering dilakukan oleh para ulama. Namun, sering juga para ulama tidak terpaku pada makna literal, sebaliknya melihat maksud ayat yang tersirat dan menyesuaikan nass-nass juz’iyy dengan maqasid kulliyyah shar’iat Islam.Setelah aku memperdalam ilmuku tentang Shariah aku akan mengerti bahwa kedua-dua pendekatan literal dan liberal terhadap maqasid shari’ah tidak tepat. Pendekatan oleh ulama-ulama mu’tabar dari dulu hingga sekarang adalah pendekatan yang oleh al-Qardhawi disebut dengan al-wasatiyyah.

Sebagai seorang Muslim sejati, aku tunduk sepenuhnya dengan perintah dan aturan yang diberikan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Shari’ah datang dari pada ALLAH SWT dan bukan, sebagaimana yang sering diperkatakan oleh orientalis, produk para ulama. Bagiku, Shari’ah bukan hanya teks-teks suci, ia juga bukan apa yang terkandung di dalam kitab-kitab Fiqh. Ketika Sayidina Umar menangguhkan hokum potong tangan pada ‘am al-maja’a [tahun kelaparan], ketetapan itu bukan pandangan subjektif beliau tetapi adalah hukum Shari’ah. Karena beliau tidak terpaku pada teks secara literal tetapi mengembalikan teks-teks juz’I kepada maqasid kulliyyah yang sebenarnya sebagian daripada Shar’iah.

Oleh karena aku menyadari kelemahanku dalam menafsirkan al-Qur’an. Maka aku merujuk kepada pandangan para ulama yang berotoritas. Mereka sangat berotoritas karena mereka menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan dalam memahami al-Qur’an. Lebih daripada itu dengan bimbingan iman mereka juga faham akan kehendak Tuhan. Bagiku ilmu adalah amanah dan pemberian Tuhan, oleh karenanya kepintaran semata-mata tidak meletakkan seseorang itu menjadi orang yang otoritatif dalam keilmuan Islam..

Karena aku memiliki worldview Islam, aku tidak akan hanyut dengan tren pemikiran Barat yang kabur dan selalu berubah. Post-modernisme yang menjadikan kegagalan dan kesempitan modernisme sebagai raison d’etrenya hanya mempunyai legitimasi di tengah obsesi Barat terhadap kuasa dan ketunggalan.

Dari awal kemunculan Islam, jelas bahwa Islam menerima pluralitas kepelbagaian sebagai lumrah kehidupan. Karena keadilan menjadi nilai utama dalam ajaran Islam, Islam selalu berada bersama kaum yang tertindas, terlupakan dan teraniaya. Konflik antara Islam dengan agama lain timbul disebabkan faktor politik dan bukan faktor teologi. Hal ini tidak sesekali memberikan justifikasi ke atas konsep pluralisme agama. Sebagai seorang Muslim aku percaya bahwa agama Tuhan yang benar hanyalah satu, yang berbeda dan berbagai adalah Shariat-Nya. Oleh karena Shari’at Muhammad adalah penutup maka hanya Shari’ah Muhammad SAW yang benar.

Keyakinanku bahwa hanya ada satu kebenaran tidak bercanggah dengan kemungkinan wujudnya kebenaran pada orang lain. Dalam permasalahan ijtihadiyyah, aku tidak akan mengatakan hanya pendapatku saja yang benar dan pendapat orang lain adalah salah.Pendekatan para ulama ini tidak membawaku kepada subjetivisme, seperti yang dilakukan oleh Khaled Abou el-Fadl, karena ia hanya berlaku hanya pada realm ijtihadiyyah.

” Kuatnya elemen subjektifisme dan penghapusan objektifitas dalam pemikiran post-modernisme akan membawa kepada nihilisme dan ketiadaan kebenaran.Tentunya hal ini akan memberikan dampak yang besar kepada agama dan kemanusiaan.” (Khalif Muamar)




edyprayitno, Editor By: al-adjehiey

Kamis, 02 Desember 2010

BERKATA ATAU MENGATA; SATU RENUNGAN

 Gambar hiasan
Nape la si X tu macam tu ek ! “Aku xsuke la.. kata A kepada B.

“ Ali ni kalau masak, mesti tak sedap.” Rungut Ina kepada Tanti.

Perkara sebegini sudah menjadi asam garam dalam masyarakat kita, iaitu menyampaikan sikap buruk atau kelemahan seseorang kepada orang yang ketiga, atau kata lainnya kita namakan MENGUMPAT (ghibah).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيه فَقَدْ بَهَتَّهُ.
Daripada Abu Hurairah r.a: Nabi Muhammad SAW bejumpa dengan para sahabat dan bertanya, “ Kamu tahu apa itu mengumpat? ” Mereka menjawab “ Allah dan Rasul-Nya lebih tahu ” Nabi bersabda lagi, “ Kamu menyebut apa yang saudara kamu benci” Mereka berkata lagi, “ Apa kata kalau yang kusebut itu sememangnya ada pada saudaraku? “ Nabi bersabda lagi, “ Jika yang kamu sebut itu ada pada dia, maka itulah mengumpat. Jika yang disebut itu tiada padanya, maka itulah pembohongan besar. ”( Riwayat Muslim, bab Haram ghibah)

Sikap suka menghidu, memasang telinga dan menyampai-nyampai sememangnya diharamkan di dalam Islam kerana ianya boleh merendahkan maruah orang lain, malah akan menimbulkan rasa kebencian pada diri orang yang dituju akibat kelemahan yang ada pada dirinya. Bukankah Islam menganjurkan kita agar saling sayang-menyayangi sesama muslim?

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Daripada Anas, Nabi sallallahu alaih wasallam bersabda “ Tidak sempurna iman seseorang itu sehingga dia mencintai saudaranya sepertimana dia mencintai dirinya sendiri”(Bukhari & Muslim).

“ Ala, tak best la kalau tak bergosip” kata temannya.

Ya, mengumpat memang menyedapkan. sangat best apabila kita dapat merendahkan-rendahkan orang lain, Amat seronok bile dapat membuka aib orang lain, dan sangat terhibur bila dapat memperlekehkan orang lain. Se’sedap’ itu jugalah kita memakan bangkai daging saudara kita sendiri.
Firman Allah s.w.t didalam surah al-Hujurat ayat 12:

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)
dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadaNya. (oleh itu, patuhilah larangan-larangan Yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.

Di dalam Tafsir Ibn Katsir, asbabul nuzul ayat ini berhubung dengan sahabat baginda s.a.w, Salman al-Farisi radiallahuanhu. Ianya disebabkan sewaktu beliau nyenyak tidur, beliau berdengkur dengan kuat. Lalu perkara ini menjadi bualan oleh sahabat lain yang mendengar dengkurannya. Kerana merasa malu, Salman berjumpa Rasulullah s.a.w dan mengadu kepadanya. Lalu turunlah ayat di atas.

Selain itu, baginda s.a.w juga menasihatkan para sahabat dari terus mencerca Abu Jahal. Sepertimana yang kita sudah maklum tentang kezaliman Abu Jahal ini, beliau sering menyekat dakwah baginda s.a.w dan mengenai bagaimana beliau menyiksa kaum muslimin di Makkah. Bahkan beliaulah yang paling memusuhi Islam. Namun baginda s.a.w tidak membenarkan dari beliau terus dicaci. Mengapa? Hal ini disebabkan anaknya, Ikramah telah pun memeluk Islam. Lihatlah bagaimana Rasulullah s.a.w menjaga hubungan sesama manusia dan pentingnya menjaga hubungan sesama muslim.

Tahassus itu adalah perbuatan mengambil tahu, menyelidik dan menyiasat untuk tujuan yang baik. Manakala Tajassus pula adalah perbuatan menyelidik, menyelak-nyelak dan mencari-cari kesalahan serta kelemahan orang lain dengan tujuan yang jahat. Kerana niat, Tahassus boleh berubah menjadi Tajassus[1]

“ Tapi kami cuma nak mengingatkan je.” jawab sebahagian yang lain.

Ya, amat penting untuk saling mengingati sesama muslim. Kerana itu Allah berfirman di dalam surah al-Dzariyat ayat 55:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (55)  
55. dan tetap tekunlah engkau memberi peringatan, kerana sesungguhnya peringatan itu mendatangkan faedah kepada orang-orang yang beriman.

 Arti yang sebeginilah jarang dimengerti orang, adakah cara teguran ataupun tindakan yang diambil memenuhi syarat dalam memberi nasihat, ataupun hanya ingin mencari kesalahan akibat kebencian yang sudah disimpan lama, irihati, dengki yang merasuk jiwa kita kepada yang hendak dituju. Pada era ini, tak kalahnya dikalangan para muslimah yang masih cenderung pada hal tersebut. Adakah perkara sebegini wajar dilakukan oleh orang berpendidikan agama. Mencari kesalahan temannya sendiri, terkadang di depan layak ia ibarat makanan akan tetapi  di belakang bersifat kotoran yang tidak bisa diajak berteman. (Misal ini hanyalah prosa dan sastra gunanya sebagai renungan bersama).

Memang bagi kita seorang muslimah mempunyai ciri-ciri pakaian luaran kita amat dibanggakan dengan tertutupnya aurat. Kita jaga selalu agar tidak tercemar bak orang pergaulan bebas di luar sana. Tapi apakah kita sudah bebas dari penyakit yang kita amalkan selama ini, yaitu penyakit hati, dengki, irihati, angkuh, dan serupa dengannya sudah bersih dan suci dari kita dan melalukan perkara baik secara sempurna sebagaimana dituntut dalam Islam. Ataupun itu hanya permaian boneka luaran sahaja untuk menarik peminat atau meletak diri kita agar dihormati. Realitinya itulah yang menjerumuskan kita pada tahap yang lebih rendah. 

Masih lupakah kita firman Allah Subhanahu Wata'ala dalam Al-Qur’an: (QS: as-Shaff : 2,3).

َيأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوْا لِمَ تَقُولُوْنَ مَا لَا تَفعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتاً عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُوْلوُا مَا لاَ تَفْعَلُونَ (3).
 “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Amat jelas dari zahir ayat di atas, akan murka Allah kepada orang yang mengatakan sesuatu kebaikan tetapi ia sendiri tidak mengamalkannya. Inilah yang penulis ingin tekankan baik pada diri sendiri maupun kepada orang-orang seakidah di luar sana agar mematuhi tata cara yang sudah diatur dalam al-Qur’an jangan hanya segala sesuatu kita buat untuk mendapat derajat populariti saja. Amalkanlah secara berhemah, terbuka dan berlapan dada. Cermin diri adalah jalan yang terbaik sebelum kita cermin orang lain. 

Namun, untuk meng’halal’kan tindakan tersebut, kita perlu check semula pada diri kita.
Adakah kita ini bebas dari kelemahan dan kekurangan?
Apakah perkhabaran tersebut boleh menambahkan amal kebaikan (pahala) buat diri kita?
Dan apakah kita akan suka sekiranya orang lain mengatakan perkara yang buruk tentang diri atau ahli keluarga kita?

Adapun 6 keadaan yang diharuskan ulama’ untuk mengumpat seperti yang termaktub pada bab berkaitan ghibah di dalam kitab Riyadhus Solihin karangan Imam An-Nawawi, ianya mestilah jelas bahawa ghibah kita itu termasuk di dalam pengecualian tersebut. Haruslah ghibah itu  mengikut berdasarkan disiplin dan garis panduan yang telah disyariatkan. Bukan ghibah itu sekadar untuk menjadi tajuk bualan atau untuk menjadi bahan ketawa. Perlu dipastikan niat kita yang sebenarnya sama ada ghibah kita itu benar-benar termasuk di dalam yang diharuskan atau yang diharamkan.

Sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai muslim untuk merahsiakan apabila kita mengetahui keaiban orang lain. Jika penganut kristian, mereka disuruh menceritakan dosa yang dilakukan kepada paderi bagi membersihkan dosa atau bertaubat, namun Islam tidak membenarkan seorang muslim menceritakan atau membuka keaibannya sendiri kepada orang lain, hatta dosa-dosanya yang sudah lalu. Apatah lagi jika orang lain yang menceritakan keaiban saudaranya.

Namun sebaiknya kita memilih jalan yang selamat, iaitu kita berdiam diri dan mengelak dari bercakap atau mencari-cari kelemahan orang lain bagi mengelak fitnah ke atas diri kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia itu berkata yang baik-baik atau diam sahaja. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka hendaklah dia itu memuliakan jirannya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia itu memuliakan tetamunya”(Riwayat Bukhari, bab lisan)

Ø Tanya pada diri adakah kita adakah benar-benar sempurna?.
Ø Tepuk dada tanya Iman kita ?.
Ø Adakah kita BERKATA ATAUPUN MENGATA ?.

An-Nuuri, Editor By al-Adjehiey,

[1] Antara peduli dan peduli apa, Ust.Hasrizal

Sabtu, 27 November 2010

Mu’tah; Islam vs Barat: Perang Pertama

 Gambar keadaan iklim di Mu'tah

 Bekas tapak peninggalan perang Mu'tah

 Peta Jordania

Ilustrasi

InsyaAllah dengan membaca artikel ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk menelusuri  sejarah masa lampau yaitu dimana tempatnya terjadi perang Islam dan Barat pada pertama kali terjadi. Tujuan untuk mengingat kembali sejarah putih dan hitam dalam perjuangan Islam demi menambah lagi keperihatinan dan kekaguman sebagai panganut agama yang real dan dijamin oleh Sang Khaliq akan keselamatannya dunia dan juga akhirat ini. Dalam peperangan ini, Allah memberi kemenangan bagi kaum muslimin dengan Jumlah musuh yang begitu besar dibanding dengan jumlah kaum Muslimin yang sedikit, inilah tidak masuk akal kalau sekiranya dicerna dengan akal logik yang sehat, melainkan tidak bukan di atas bantuan Allah Azza Wajalla. Walaupun ada beberapa pandangan yang tidak sepakat dalam penentuan kalah atau menang bagi kaum Muslimin. Walaupun begitu di pertempuran yang begitu hebat ini ujian bagi kaum muslimin adalah amat mencabar apatah lagi ketika pertukaran pemimpin perang selisih berganti akibat syahid di tangan musuh. Kecelaruan panduan agak terkeliru di sini, kemana hendak dijadikan ikutan kecuali setelah Khalid bin al-Walid dilantik menjadi Komandan/ketua perang. 

Pengenalan secara singkat

Mu`tah adalah sebuah kampung yang terletak di perbatasan Syam. Desa yang ada di tepi Sungai Jordan ini, kini masuk dalam wilayah Karak/gurun wilayah Yordania. Mu'tah saat ini merupakan wilayah yang semarak dengan deretan pohon pinus di sepanjang jalan. Tidak seperti wilayah lain di Arab Saudi, di Mu'tah tidak begitu ramai orang yang berjubah. Bahkan, kabarnya juga tidak ada unta. Hal ini karena Mu'tah termasuk wilayah Mediterranean yang memiliki empat musim. Pada musim dingin, Mu'tah seringkali diselimuti salju. Begitulah saya diberitahukan oleh beberapa sahabat seperjuangan yang menyambung pelajarannya di bumi Ambiya’ ini.
Dan juga kampung Mu'tah, pada masa Rasulullah SAW menjadi salah satu saksi penting sejarah perkembangan Islam.

Di dekat kampung ini, terjadi peperangan antara bangsa Arab yang sudah memeluk Islam dengan aliansi bangsa Arab pemeluk Nashara dan Bangsa Eropa dari kerajaan Romawi.
Beberapa literatur menyebutkan, perang ini adalah perang pertama umat Islam melawan bangsa Barat.

Peperangan di Mu’tah

Pertempuran Mu’tah  terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 H[1], dekat kampung yang bernama Mu’tah inilah, di sebelah timur Sungai Jordan dan Al Karak, antara pasukan Muslim yang dikirim oleh Nabi Muhammad dan tentara Kekaisaran Romawi Timur. Jumlah tentara kaum Muslimin adalah 3000  VS 200.000 kaum Kuffar.

Dalam sejarah Islam, pertempuran ini merupakan upaya Muslimin untuk memberikan pembalasan terhadap kepala suku Ghassaniyah yang mengeksekusi/menahan seorang utusan kaum Muslimin. Menurut sumber-sumber Islam, pertempuran ini berakhir dengan kedua belah pihak berundur dari medan perang. Menurut sumber-sumber Barat modern, pertempuran ini adalah upaya penaklukan yang gagal terhadap bangsa Arab di sebelah timur Sungai Jordan[2].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak”[3].


Dari kisah di atas marilah kita lihat sepotong ayat al-Qur’an ini, Allah Azza wa Jalla berfirman :


  قال الذين يظنون أنهم ملقوا الله كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله , والله مع الصبرين

...Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah 2:249)

Para ulama sejarah berselisih pendapat dalam bab ini mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan saja, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit yang pernah ditempuh ummat Islam pada ketika itu. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.
Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman”.[4]

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung (adik beradik). Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.[5]

Inilah peperangan kaum muslimin yang pertama melawan bangsa adidaya/adikuasa dimasa itu, bangsa Romawi. Berlaku pada tahun 8 H. Sebahagian ahli sejarah mengungkapkan bahwa faktor pemicu laga antara kaum muslimin dan kaum kuffar ini disebabkan oleh pembunuhan atas utusan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang bernama al-Harits bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu oleh Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani, salah satu gubernur dibawah bangsa Romawi di Syam (pada waktu itu yang berkuasa di wilayah Palestin dan sekitarnya). Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dibunuh dalam misinya.

Kesimpulan 

Allah juga menguji para ummat Islam bagaimana strategi dan sikap untuk melawan musuh yang nyata ini atau sudah terbukti akan memerangi kita sebelum mengikuti agama mereka. Sebagaimana Firman Allah (QS : Al-Baqarah : 120).

و لن ترضى عنك اليهود ولا النصرى حتى تتبع ملتهم , قل إن هدى الله هو الهدى , ولئن اتبعت أهوائهم بعد الذي جاءك من العلم , ما من الله من ولىّ  ولا نصير

Yang artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
Inilah diantara ayat yang selalu dipakai oleh para penda’i kita ketika menyentuh hala tuju musuh Islam dalam merancang untuk meruntuhkan Islam yang mulia ini. Dari arti diatas sangat jelas apa sebenarnya tujuan musuh Islam. 

Beberapa pengajaran yang dapat penulis ambil di sini, pertama; Janganlah menjadi gentar ketika melawan musuh Allah Subhana wata’ala, kedua; yakinlah bahwa Allah Subhana wata’ala akan membantu ummatnya dalam perjuangan karena-Nya, ketiga; seiring dengan perkembangan zaman, maka berbagai pula cobaan dan ujian yang datang, keempat; jadikanlah kisah ini sebagai awal semangat dalam perjuangan Islam, kelima; jadikanlah cita-cita menjadi seorang syahid di jalan Allah Subhana Wataa’la.




[1] Saif-ur-Rahman Mubarakpuri, ar-Raheeq al-Makhtoom, "The Sealed Nectar", Islamic University of Medina, Dar-us-Salam publishers ISBN 1-59144-071-8
[2] Buhl, F "Mu'ta". Encyclopaedia of Islam Online Edition. Ed. P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs. Brill Academic Publishers. ISSN 1573-3912
[3] Lihat al-Bidayah wan Nihayah (4/214).
[4] Hadits riwayat Bukhari 4265-4266.
[5] as-Sirah ash-Shahihah (hal.468) jumlah Sahabat yang gugur 13 orang.

Sabtu, 20 November 2010

HARI RAYA QURBAN 1431H: Kongsi Suasana



 Permulaan 

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah yang Yang Maha kuasa di atas karunia-Nya berupa umur panjang sehat badan, sehat fikiran sehingga dapat lagi merasakan bagaimana suasana hari besar Islam yang kedua ini. Pada kali ini, saya ditakdirkan dapat merayakannya di tempat pembelajaran saya yaitu di Propinsi Lampung. Inilah suatu nikmat bagi saya yaitu setiap lebaran dapat merasakannya di berbeda-beda tempat. Nikmat ini sangat saya syukuri bermula meniti hidup dalam perantauan ini selepas nikmat Iman dan Islam yang selalu dicucuri Allah Subhana Wa Ta’ala selama ini.

Di sini, saya ingin kongsi suasana hari lebaran di Lampung kepada handai taulan yang ingin mengenali lebih jauh perlbagai budaya yang ada di  Indonesia umumnya dan propinsi Lampung khususnya. Tak dapat tidak bagi seorang yang selalu ingin mengongsi cerita pengalaman seperti saya, menggunakan peluang yang ada untuk melatih diri dalam menulis, baik berupa ilmu pengetahuan yang termampu, opini penulis tentang isu semasa, kongsi pengalaman pengembara ataupun apa yang ada terlintas dalam fikiran untuk berbagi kepada pembaca. 

Malam Lebaran

Allahhu akbar…Allahu akbar…Allahu akbar........walillah ilhamd.

Begitulah selalunya terdengar di telinga kita sebagai Muslim yang sejati ketika mahu menyambut hari raya. Di saat-saat inilah kerinduan mulai membanjiri hati ini teringat akan keluarga, teman-teman yang jauh di mata. Dengan sahabat seperjuangan dari Malaysialah saling bertoleransi dalam berbagi kisah silam suasana Raya. Mimik wajahnya seakan-akan menampakkan betapa besarnya kerinduan yang dipendam seolah-olah ingin merungkaikan semua. Dalam keadaan terasing jauh dengan kampung halaman, jauh dengan suasana yang dirasai selama ini, mestilah membuat insan perantau akan iba (sedih, terharu beserta rindu) akan masa lalu.

Gemuruh aura takbir terdengar di semua sudut asrama Ma’had al-Jami’ah ini, terdiam, iba, sambil-sambil mengikut rentak ayunan irama yang dikumandangkan oleh Sang Bilal. Terkadang tak tahu yang mana harus dijadikan ikutan, kerana terlalu banyak mengumandangkannya untuk menambah lagi kemeriahan. Beginilah suasana malam lebaran bagi insan di asrama ini, sampailah mata terlelap….zzzzz..!!!

Pagi lebaran

Minal Aizin wal-Faiizin, 

Takbir lagi terdengar di ufuk subuh sehingga fajar menyinsing sinarnya, menandakan waktu solat Eid hampir tiba. Kamipun (penghuni asrama Mahasiswa dari Malaysia dan Thailand) dijemput untuk melaksanakan Solat Sunat Hari Raya Aidil Adha di sekitar kampus yaitu komplek rumah Griya, di mana tempat tinggal kebanyakan dosen-dosen/pensyarah IAIN Raden Intan. Bermula dari rumah Pak Nas (panggilan mesra kepada penyelia asrama kami, Drs. Nasruddin, M.Ag) sampailah ke menasah di mana kami akan menunaikan solat sambil berjalan kaki. Alhamdulillah sekali lagi puji syukur kepada Rabb, dapat menunaikan solat Eid disertai dengan khutbah bertajuk “Nikmat Iman dan Nikmat Islam”

Selepas solat, langsung saja kami dipersilahkan untuk mengikut rombongan silaturrahmi ke rumah-rumah para pemuka di desa tersebut. Menurut penerangan dari pak Nas, kebiasaan silaturrahmi sebegini selalu diadakan setiap hari-hari besar Islam. Sungguh mempesona suasana dapat memeriahkan hari raya dengan keadaan sebegini rupa. Ini agak sama dengan adat di Malaysia, ketika sesudah solat Eid budaya kunjung-mengunjung ke rumah jiran amatlah dibudayakan. Sungguh indah adat Islam ini yang mengutamakan silaturrahmi antara tetangga. Berlanjutlah ziarah ini sampai ke rumah ibu Ida (dosen mata kuliah Sosiologi Fakultas Usuluddin). Beginilah suasana hari pertama lebaran yang lumayan meriah dibandingkan Hari Raya Aidil Fitri sebelumnya yang begitu meriahnya, tidak mungkin saya utarakan satu persatu dalam ruang alternatif ini.

Hari kedua,

Pada hari inilah, kami mahasiswa Malaysia, Thailand dan beberapa mahasiswa Indonesia yang tidak pulkam (Pulang Kampung) berpiknik ke Pantai Teluk Betong. Sebenarnya kesempatan sebeginilah yang ditunggu bagi kami pelajar rantauan ini. Sudah lama dirancang untuk meziarahi tempat-tempat yang dibanggakan oleh orang Lampung ini. Namun pada kesempatan ini, satu sahaja tujuan yang hendak dituju. 

Walaupun planningnya mendadak (terburu-buru), tidak dirancang secara sistematik. Perasaan gembira tiba-tiba muncul juga dalam benak hati saya dan teman-teman setelah diketahui akan hadirnya Rektor & Bakal Rektor IAIN beserta karyawan-karyawan lainnya. Pada awalnya tidak terfikir suasana piknik ini akan jadi meriah begini.

Mulailah perjalanan, dengan dinaiki 4 mobil (1 mobil untuk para rektor/ orang atas IAIN, 3 lagi para mahasiswa). Kegembiraan dengan dihiasi kesyukuran tidaklah dapat diluahkan dengan kata-kata serba sedikit prosa dan sastra yang saya miliki ini. Namun penggunaannya menjadi harapan saya untuk dapat dimengerti oleh pembaca dalam kongsi berita & suasana saat musim Raya kali ini.

inilah sedikit coretan tinta yang bisa diajak menari di atas skrin dalam rangka kongsi suasana hari raya Aidil Adha 1431H pada kali ini. 

Wallahu a'lam....










Minggu, 14 November 2010

PENENTUAN HARI RAYA QURBAN 1431H: Menteri-Menteri Agama Negara Brunei Darussalam, Republik Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS)

8 November 2010


KENYATAAN MEDIA
KETUA PENGARAH
JABATAN KEMAJUAN ISLAM MALAYSIA (JAKIM)

BERKENAAN
PENENTUAN HARI RAYA QURBAN 1431H DI MALAYSIA

1. Sukacita dimaklumkan bahawa Jabatan Kemajuan Islam Malaysia( JAKIM) melalui Cawangan Falak JAKIM ingin memaklumkan bahawa kaedah penentuan Hari Raya Qurban 1431H di Malaysia adalah menggunakan kaedah rukyah (cerapan) dan hisab berpandukan kriteria imkanur rukyah (kebolehnampakan).

2. Berdasarkan rekod cerapan anak bulan Zulhijjah 1431H disebanyak 30 tempat cerapan rasmi di Malaysia oleh Jabatan Mufti Negeri-Negeri di Malaysia pada 29 Zulkaedah 1431H bersamaan 6 November 2010 (Sabtu) yang lalu, telah mendapati anak bulan tidak kelihatan di kesemua tempat cerapan tersebut.

3. Hasil data cerapan tersebut kedudukan hilal (anak bulan) telah tidak memenuhi kriteria ketetapan Imkanur rukyah (kebolehnampakan).

4. Untuk makluman masyarakat Malaysia, persetujuan bersama oleh 4 negara anggota Menteri-Menteri Agama Negara Brunei Darussalam, Republik Indonesia, Malaysia dan Singapura( MABIMS) telah menerima pakai Kriteria Imkanur-rukyah (kebolehnampakan) yang telah diputuskan melalui keputusan Mesyuarat Jawatankuasa Penyelarasan Rukyah dan Takwim Islam Kali ke-3 di Wilayah Persekutuan Labuan pada 29 Zulkaedah 1412H bersamaan 1 Jun 1992 sebagaimana berikut:

’Hilal dianggap boleh kelihatan apabila kiraan memenuhi
salah satu daripada syarat-syarat berikut :

  1.  Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari tidak kurang 3°, ATAU
  2. Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak berlaku.”
5. Oleh yang demikian, semalam iaitu pada 7 November 2010 adalah hari genap bagi Zulkaedah dan pada 8 November 2010 (Isnin) iaitu hari ini telah ditetapkan sebagai 1 Zulhijjah 1431H dan 10 Zulhijjah 1431H iaitu hari raya Qurban pula jatuh pada 10 Zulhijjah 1431H iaitu pada Rabu minggu depan bersamaan 17 November 2010.
6. Sehubungan dengan itu, umat Islam di Malaysia bolehlah melakukan ibadah puasa Arafah pada 16 November 2010 (Selasa) bersamaan 9 Zulhijjah 1431H.

7. Sukacita dimaklumkan juga, asas penentuan hari raya Korban di Malaysia adalah selaras dengan Singapura dan Republik Indonesia dan berkebetulan pada tahun ini negara Brunei Darussalam dijadualkan bersama-sama merayakan hari raya korban pada tarikh tersebut.

8. Untuk makluman lanjut, orang ramai boleh mengakses dan merujuk Info Kriteria Imkanur-rukyah di Malaysia dan data-data berkaitan melalui laman web JAKIM di laman sesawang
www.islam.gov.my.

9. Oleh itu, sukacita dipohon pihak media dapat memaklumkan perkara ini kepada masyarakat. Atas kerjasama dan keprihatinan pihak media dalam perkara ini didahului dengan ucapan terima kasih.


Sekian, terima kasih.
BERKHIDMAT UNTUK NEGARA
Saya yang menurut perintah,
DATO’ HAJI WAN MOHAMAD BIN DATO’ SHEIKH ABDUL AZIZ
http://www.islam.gov.my/portal/

Sabtu, 13 November 2010

Pro-Kontra: Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional


Soeharto adalah presiden Republik Indonesia yang kedua setelah Soekarno mengalih masa pemerintahannya kepada bekas ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) ini. Pada mulanya, pemerintahan Soeharto adalah relatif aman karena sistem yang dipergunakan menjurus kepada pembangunan dan berkembang dari keterpurukan. Banyak pembangunan yang dicapai masa pemerintahan Soeharto walaupun tidak semuanya sesuai dengan planning sebenarnya. Contohnya: Indonesia pernah menjadi salah satu Negara macan Asia (disegani kawan dan lawan khususnya di benua Asia), Soeharto lah yang memberantas bejatnya PKI (partai Komunis Indonesia) yang hampir memporak-porandakan Indonesia ketika itu.

Peringatan hari Pahlawan pada 2010 betepatan dengan 10 November kelmarin mengundang kontroversi Karena, masyarakat disajikan banyaknya komentar pro dan kontra seputar diajukannya Soeharto sebagai salah satu Pahlawan Nasional tahun ini. Ramai terdengar suara sumbang dari hasil cadangan itu, tertanya-tanya mengapa harus Soeharto? 

Pihak pro memberi pandangan jasanya harus diakui banyak, di antaranya membubarkan PKI. Selama 32 tahun berkuasa, rakyat pernah merasakan kehidupan yang tenang, harga barang pokok murah, Indonesia menjadi negara surplus beras lewat swasembada pangannya (pengimport dan juga membekalkan beras sendiri untuk rakyatnya). Rakyat Indonesia juga pernah mengalami kenaikan kesejahteraan lumayan tinggi di masa Orde Baru. Keamanan relatif kondusif.

Begitu juga pihak kontra dalam hal ini, sangat tidak relevan Soeharto dinobatkan sebagai pahlawan Nasional. Mereka mengatakan tidak ada pembangunan sedikitpun yang dapat dirasakan dalam pemerintahannya. Kalaupun ada itu hanya secuil dari buih di lautan. Sangat tidak wajar dengan masa pemerintahannya selama 32 tahun. Merupakan waktu yang paling lama pemerintahannya dibandingkan presiden RI yang lainnya. Terbukti Kinerja Soeharto pada dekade 1990-an berubah secara drastis/serentak. Pemerintahan Soeharto menjadi lembah KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) yang melibatkan putra-putri dan kroninya, serta represif terhadap aktivis politik dan mahasiswa. Pelanggaran HAM terjadi di mana-mana. Kondisi rakyat Indonesia pada waktu itu terombang-ambing sehingga mundurnya pada 21 Mei 1998, di atas desakan Persatuan Mahasiswa dan Ormas-ormas (organisasi masyarakat) diseluruh Indonesia.

Pada permasalahan ini saya lebih berpihak kepada kontranya, karena terlalu banyak keburukan berlaku di masa pemerintahan Soeharto. Kekayaan Negara hanya untuk kroni-kroninya sahaja. Sehingga penderitaan rakyat Indonesia sangat membimbangkan apatah lagi ekonomi moneter inflasi yang cukup tinggi hingga menurunnya nilai Rupiah ke paras yang sangat rendah. Hutang Negara bertumpuk di mana-mana Negara. Bayangkan dalam logik akal hutang Negara ditanggung per orang bisa mencapai 10 juta rupiah (hasil diperoleh dari opini masyarakat setempat). Inilah yang menyayat hati rakyat Indonesia untuk menerima gelaran Pahlawan Nasional tersebut.

Disini, saya juga ingin mengkongsi berita dari Propinsi Serambi  Mekkah Aceh ketika dulu.  Di Aceh, 77 lembaga sipil mengecam keras ide pemberian gelar ini. Menurut aktivis sipil, Soeharto sama sekali tidak layak menjadi Pahlawan Nasional. “Tidak ada jasa yang pantas/sesuai sehingga bisa menjadikan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional,” kata mantan anggota Komisi I DPR RI asal Aceh Gazali Abbas Adan dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin (25/10).

Menurut mantan politisi (PPP) Partai Persatuan Pembangunan ini, Soeharto tak lebih sebagai orang yang harus bertanggungjawab terhadap berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Aceh selama pemerintah memberlakukan (DOM) Daerah Operasi Militer dengan sandi Jaring Merah selama kurun waktu 1989-1998. Disini berlaku pembantaian habis-habisan kepada rakyat Aceh dengan alasan Soeharto mahu memerangi teroris di Aceh. Padahal faktanya mengatakan Aceh ingin menuntut haknya sebagai salah satu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Tetapi pihak pemerintahan pada ketika itu tidak mengambil peduli. “Selama periode ini, telah terjadi genosida, ethnic cleansing di Aceh. (AcehKita.com)

Menjelang dan usai pencabutan DOM pada 1998, Komisi I DPR RI membentuk Tim Pencari Fakta. Gazali Abbas Adan termasuk salah seorang anggota Tim Pencari Fakta. Mereka turun ke Aceh dan mendapati kasus pembunuhan di luar proses pengadilan dan menemukan sejumlah kuburan massal (kubur beramai-ramai) korban kekejaman aparat/polisi negara di masa DOM tersebut. “Keputusan parlemen, membuktikan bahawa Soeharto adalah orang yang bertanggungjawab dengan pemberlakuan DOM di Aceh.

Karena itu, sangat berat bagi Dewan Gelar Tanda Jasa dan Kehormatan Kepresidenan dalam memutuskan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional. Tidak demikian halnya dengan Gus Dur, mantan pemimpin nasional dan bapak pluralisme. Ia relatif aman karena tidak banyak penolakan dari elemen masyarakat, meskipun selaku presiden di masa lalu Gus Dur dikenakan hukuman impeachment’ oleh MPR (Majlis Permusyarawatan Rakyat). Kondisi itu berarti Gus Dur melakukan kesalahan fatal. 

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 1 angka 4 berbunyi: ‘’Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia”.

Dari bunyi undang-undang di atas dapatlah dinyatakan bahwa pemerintahan Soeharto sangat jauh tergelincir dari tujuan utama. Walaupun ada juga terdapat kebaikan dan juga kemajuan yang dikecapi rakyat Indonesia dahulu akan tetapi ianya adalah terlalu sedikit. Sehingga cadangan gelar pahlawan kepada Soeharto adalah tidak mencukupi syarat-syarat yang sudah tertulis dalam UU.

Pada hemah saya, soeharto memang tidak bisa mempolopor gelar tersebut di atas bukti kontra yang terlalu banyak berlaku pada masa pemerintahannya. Walaupun begitu sebagai warga Indonesia yang menghormati pemimpin dan pernah merasakan pembangunan, maka Soeharto hanya layak digelar sebagai Bapak Pembangunan bukan Pahlawan Nasional.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More