AHLAN WASAHLAN....


Sabtu, 29 Januari 2011

Tanah Java; Pukau Pengunjung

Hampir mencecah sebulan setengah, saya tidak aktif dalam blog,,heehhehhe…biasa dong, Karena kemarin menghadapi ujian semester ganjil (harap2 dapat nilai yang memuaskan)…
Sejak pulang dari tanah Java, lahirlah idea kembali untuk menulis dalam berbagi pengalaman yang dirasakan dalam perjalanan yang memakan waktu lebih kurang satu minggu. Di Jakarta 1 hari dan di Bandung 6 hari+malam.
Apa yang saya ingin kongsikan pada kali ini, adalah bagaimana suasana di sekitar pasar Tanah Abang yang terkenal dengan barang tekstilnya…
 Gambar Pasar Tanah Abang Blok A yang diambil di atas jejantas
Pemberangkatan

Pada tanggal 18 Januari malam, pukul 9 lebih saya berangkat ke Jakarta naik travel yang di sewa Rp170.000/org. Tujuan pada perancangan awal ke Tanah Abang (Jakarta Barat), guna untuk melihat sendiri dengan dekat bagaimana tata cara perniagaan yang bisa mencecah milyaran rupiah per hari. Dan juga untuk menjejak kaki ke Ibu Kota tercinta yang sudah sekian lama baru saja tercapai. Sudah lama keinginan ke DKI (Daerah Khusus Ibukota), akan tetapi masa dan luang masih saja terhambat serta faktor utama adalah duit. Kesempatan ini, saya ambil karena lampung (tempat pembelajaran degree saya) adalah sangat dekat. Menjadi faktor tertarik minat untuk mencapai keinginan yang terpendam.

Dari asrama IAIN Raden Intan ke Bakauheni, menempuh masa dalam 2 jam lebih. Terus naik kapal ferry, yang merupakan jalur satu2nya untuk menuju Jakarta. Saya terfikir sejenak, kenapa jalur untuk menuju Jakarta harus melalui laut untuk melintas dari Sumatera ke Jawa. Adakah tidak ada jalur darat? Seperti di negara2 luar yang masih membangun aja sudah pakai jembatan untuk melintas pulau guna transaksi dan pemasokan barang keseluruh pelosok Negara. Kenapa ya tidak terfikir untuk melakukan demikian sebagai contoh jalur yang sehat…padahal lintas yang paling banyak dilalui adalah Sumatera-Jawa, bukan Madura-Jawa yang pun sudah dibangun jembatan sekian lama. (ngak logik)…

Pelayaran ferry/kapal menempuh 2 jam lebih sampai ke pelabuhan Merak. Sampailah jam 4 pagi (subuh menjelang/sempat juga solat subuh di kapal). Perjalanan dilanjutkan sampailah pada tujuan yaitu Pasar Tanah Abang Blok A-B pada pukul 9 pagi waktu setempat. Jadi waktu perjalanan dari asrama IAIN ke Tanah Abang mencecah 12 jam (tergantung kepada kondisi jalan dan cuaca).

Penginapan 

Bagi sesiapa yang hendak menuju ke tanah abang untuk berbelanja, anda jangan risau dan jangan kuatir dengan penginapan anda. Disebelah kiri pasar terdapat banyak hotel/motel/losmen untuk disewa dengan harga bervariasi per malam. Sempat juga teringat nama2 hotel/motel disekitar seperti: hotel H.Chica Rp50rbu/org (makin ramai per kamar makin murah), hotel Lampung harganya sama dan hotel focus yang agak mahal dibanding keduanya karena agak mewah, kalau tidak salah Rp100+/night. inilah sedikit makluman/info yang bisa dikongsikan tentang penginapan di Tanah Abang.

Pemakanan

Untuk makan anda jangan risau, di sini terdapat rumah makan /restoran yang menyediakan makanan berbagai yang anda suka (tapi kesemuanya agak menyerupai makanan ala kampung). Bagi pengunjung yang ingin jimat/hemat dalam pemakanan akan tetapi sedap jangan kuatir disamping hotel H.Chica terdapat WARTEG (warung Tegal) merupakan kedai makan yang paling murah, menunya hampir sama dengan cita rasa masakan Padang/minang. Dan juga warteg ini tersebar di seluruh kota Jakarta, sangat mudah badi anda untuk memperolehnya.

Panorama

Pemandangan yang ingin saya nyatakan disini adalah mengenai suasana disekitar pasar tanah abang bertepatan jalan hotel chica yang saya duduki sementara. Di sini kesibukan amat terlihat, berbagai macam gelagak orang yang berlaku…kiri kanan terlihat sibuk orang mengangkut barang-barang yang hendak dikirim ke tempat pelanggan yang sudah menempah. Sampai lah jalan ini macet (jam) total, sehingga dengan berjalan kakipun tiada ruang dibuatnya. Panorama inilah yang menjadikan titik pembicaraan dibenak saya, orang Indonesia memang dikenal dengan susah dan serba kekurangan dibanding Negara2 tetangganya. Walaupun demikian warganya kreatif dalam mengambil peluang yang ada, sehingga sanggup meninggalkan tanah lahir untuk mengais sesuap nasi di tanah orang. Kreatif yang saya maksudkan disini adalah bagaimana dengan berbagai cara sekalipun orang disekeliling pasar ini disibukkan dengan kerja, baik mengangkat goni2/karung2 yang berisi bahan tekstil untuk kiriman domestic maupun luar Negara/ekspor. Bahkan ada orang berjualan macam2 ada, sehingga tas/bag barang yang dijahit sendiripun ada, jadi bagi pengunjung tidak susah mencari tas2 untuk memuat barang yang sudah dibeli. Sampai2 lahirlah istilah MENGAMBIL PELUANG DARI SEBUAH TANTANGAN/CABARAN.

Tantangan hidup sebeginilah menjadikan warga Indonesia yang serba susah untuk menjadikannya peluang dalam berbagai bisnes disebaliknya pengunjung manca Negara/turist yang datang untuk membelikan oleh2/buah tangan ketika menginjak kaki ke Batavia ini. Kekreatifannya membuat tantangan/cabaran menjadi peluang untuk mengais keuntungan. Fenomena seperti ini patut dipuji dan dicontohi oleh berbagai pihak, warganya tidak hanya mengharap belas kasihan pemerintah sahaja turut juga mandiri dalam berbagai peluang di depan mata.

Inilah keunikan pasar tanah abang, sehingga memukau hati para pembeli yang berkunjung. Berbagai produk seindonesia dapat diperolehi di sini dengan harga berpatutan bahkan diluar fikiran karena tak disangka2 terlalu murah dan juga kualiti. Apatah tidak, semua barang2 dan kraf tangan yang dijual dapat menembus pasaran international sehingga diekspor keseluruh pelosok Asia terutama yang terkenal dengan kain sarungnya Gajah duduk dan juga Islamik fesyen sampai ke Rusia. Inilah sebab ianya dapat memukau pengunjung yang ada, disamping kenyamanan yang ada. Berbeda seperti namanya PASAR, mana ada pasar yang ber-Air Cont, lift, escalator, layaknya mall2 lainnya. (tidak percaya lihatlah sendiri).

Depart to Bandung

Cukup la sudah dengan keunikan Tanah Abang, tibanya yang lain pulak. Heeee. Bandung lah jadi distinasi yang kedua. Keesokan harinya, saya berangkat ke Bandung yang terkenal dengan ramah, cantik penduduknya dan juga dingin suasananya serta kraf tangannya yang begitu diminati oleh orang2 Malaysia dan Singapore ini. Peninggalan sejarah juga membuktikan bahwa bandung ini adalah salah satu kota yang kaya dengan sejarah salah satunya adalah bekas gedung Konferensi Asia-Afrika, gedung-gedung design Europe di Paris Van Java, Tangkuban Perahu di puncak gunung dan kawah putih di daerah Lembang. Masih banyak lain sejarah2 dan juga tempat menarik di Bandung sampai saya tidak sanggup mengutarakannya dalam ruang ini.
Ketika berangkat ke Bandung ini, macam2 terjadi dengan saya dan teman2. Beginilah ceritanya….dengar baik2 tawuuuuu…

Jakarta ke Bandung mengambil masa dalam 3 jam, ongkos/tambang bus adalah Rp35 ribu. Untuk mengambil bus direct ke Bandung perlulah depart dari Kampung Rambutan karena disini lah tempat yang sesuai dan mudah didapati bus yang menghala kesana. Disini haruslah berhati-hati, kenapa saya bilang demikian; karena ramai sopir/driver yang memaksa secara lembut untuk naik bus mereka, contohnya dengan ingin menolong angkat barang bawaan kita untuk terpukau menaiki bus nya. 

Saya cukup2 kena tipu dengan menaiki bus Jakarta-Garut, Karena terpukau dengan keramahan yang ditunjukkan pak sopir ala gaya baik ini. Bus yang saya tumpangi bukan yang sebenarnya ke Bandung malah lainnya. Tanpa kami sedari hal ini, sampailah saya disuruh turun ditengah jalan untuk menyambung bus lagi ke Kota Bandung. Laluan yang mereka guna adalah laluan ke Garut. Disini lah kesadaran pukauan manis muka pak sopir ala penipu ini lenyap dari hati dan fikiran. Sampailah keluar dari mulut saya perkataan marah dan tak puas hati di atas kebohongan mereka. (tapi tidaklah sampai cacian, karena sedar bahwa cabaran dalam perjalanan first time ini).

Dengan rasa letih dan agak marah, turun lah juga dari bus ini. Sambung pulak ke bus lainnya yang agak sedikit sederhana sampai2 tidak pakai AC seperti saya tumpangi awal tadi. Walaupun dengan keletihan yang ada, sempat juga kami di hiburkan dengan berbagai kesenian pengamen (penyanyi jalanan) yang naik sekali ke bus kami. Alhamdulillah, aduhai lucunya, kaget/terkejut, ketawa dan merdunya nyanyian sunda ala bandung yang mereka berdua dendangkan. Gendang dan gitar menjadi alat musik pilihan mereka sehingga dengan kolaborasinya melahirkan alunan nada yang enak didengar walaupun kami semua tidak faham bahasa yang digunakan tapi rentak goyangan badan kesemua kami mengikuti alunan lagu yang dibawa Sampailah habis persembahan mereka yang non resmi ini. Hilanglah rasa letih berganti dengan gelak ketawa, alahai orang bandung pitar kali koq buwat kami terkocok perutt oleh nyanyian mu….(kata seorang teman)… pun begitu, persembahan kedua pulak berlanjut selepas yg pertama dihadiahkan dengan recehan/syiling rupiah dari penumpang yang menikmati hidangan lagu yang merdu tadi.

Dalam persembahan kedua ini, agak sedikit menguji penglihatan, mental dan emosi kami. Apakan tidak, orang yang berdiri didepan kami rupanya penyulap/ahli silap mata. Alangkah terkejutnya saya, padahal penampilan yang dipakainya tidak sedikitpun menggambarkan penampilan dalamannya yang dapat memukau sesiapa yang menontonnya. Dengan kopiah putih di atas kepalanya ala pak kiai/ustaz, baju yang agak sederhana dan tas kecil yang disangkut di bahunya. Jujur dengan Style begini memang dapat menarik pandangan untuk tertumpu pada persembahannya. Permulaan dengan sepatah kata makluman untuk memperkenalkan dirinya dan profesinya.

Singkatnya, dia keluarkan sapu tangan kecil dari tasnya dan dimasukkan dalam tangan hingga tiba2 hilang begitu saja. Alangkah terkejutnya terbeliak mata yang sudah mulai ngantuk sebab keletihan yang sudah mulai terasa. Mata tertumpu pulak pada sapu tangan si pesulap yang tiba2 hilang hingga dijumpai di bantal seat di samping penumpang yang kosong. Ini sudah mulai menguji mata yang mulai ngantuk, akan tetapi tumpuan tetap saya berikan pada retoriknya/gayanya.

Yang kedua, si pesulap mengeluarkan patung kecil yang diberi nama “Jailangkung”. Kemudian diletak di telapak tangan kirinya terus diseru dengan kalimat bangun…bangun..bangun…tiba2 dengan sendirinya patung itu bangun dan bergoyang ke kiri ke kanan. Tipuan mata kena kedua kalinya, namun hati saya masih biasa2 aja masih ramai orang yang bisa memperagakannya.

Tiba persembahan yang ketiga pulak, namun ini agak berlainan dan mengerikan. Tibalah hati saya dengan perasaan takut dan penasaran alangkah bisanya si pesulap memujuk saya untuk mengeluarkan receh yang lebih banyak demi menghargai hasil hiburannya. Apakan tidak, paku yang panjangnya 10 cm dan size 5 inc diketuk ke lubang hidungnya sampai habis dengan tidak mengeluarkan darah sedikitpun layaknya tidak terjadi apa2. Alamak teriak seorang penumpang di belakang…aduhhhhh…koq bisa ya…heran heran hati saya berbisik ilmu apa yang digunakan oleh pesulap ini sampai2 bisa mengais duit dengan mudahnya terhulur dari penumpang2 atas persembahannya. Memangpun layak dikasih pujian ke atas ketrampilannya. Inilah termasuk pukaun tanah Java kepada pengujung yang memijak kaki di atasnya. Sampailah ke Lewi Panjang, yaitu terminal bus lintas Sumatera di Bandung. Sambunglah kami dengan bus satu lagi dan berakhir dengan angkot (angkutan Kota) sampai ke destinasi yang hendak dituju yaitu Wisma Arama Mahasiswa Aceh di Bandung di Jalan Cicendo berdekatan dengan Pasar Baru Trade Center, dengan berjalan kaki hanya 5 menit. Alhamdulillah akhirnya sampai juga memijak kaki ke penginapan yang sudah tertatap dengan indah dan mewah bak hotel yang mempunyai service bintang 3.

 Gambar spanduk pengenalan Asrama Aceh di Bandung
Akhirnya, 5 hari habis juga terisi dengan berbagai kenangan dan pengalaman pertama di Tanah Java antara Jakarta dan Bandung. 

Pukaun terakhir di tanah Bandung ialah tempat yang sejuk, kota yang bersih dan tertata dengan rapi bak kota yang terdapat di negara2 maju. Tumpuan yang paling diminati pelancong/turis adalah pertama Pasar Baru Trade Center sehingga saban harinya pengujung dari Malaysia dan Singapore selalu memborong jualan yang ada seakan tidak ada rasa puasnya. Yang kedua tempat jualan barang Branded di Factory Outlet yang terletak di Jalan Dago dan Riau. Barang yang dijual lansung dari kilang/pabrik yang direject tapi jangan risau kualitinya tetap branded dengan harga jauh lebih murah berbanding di Malaysia dan Singapore yang pernah saya kunjung. Ketiga, keindahan gunung Tankuban Perahu dan Kawah putih hasil dari Volcano yang lampau dan diperkirakan ianya masih aktif sampai sekarang. Kesejukan dan kehangatan udaranya masih dapat dirasakan seperti nature/alam semula jadi. Tumpuan yang terakhir adalah design kota ala Paris yaitu Paris Van Java yang unik seolah2 berada di Eropah siapa yang melihatnya. Mall ini amat terkenal dengan panorama yang menampilkan berbagai seni Uerope yang tertata di tanah Java berbanding sepanjang jalan ASIA-AFRIKA yang terkenal dengan gedung sejarah Konferensi Asia-Afrika yang pernah berlansung ketika dahulu hingga membuat kota bandung dipenuhi dengan sejarah disegala penjuru.

Inilah yang dapat saya kongsikan bersama teman2, di sela2 waktu cuti semester ganjil ini. Semoga dapat bermanfaat bagi semuanya dan jangan sampai terulang apa tidak diinginkan dengan tertipu si sebalik terpukau dengan keunikan benda yang baru dijumpai. Belajarlah dari pengalaman karena ianya GURU YANG TERBAIK KITA.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More